Bisnis

10 Kota Termahal untuk Ditinggali, Ibu Kota Turkmenistan yang Paling Mahal

10 Kota Termahal untuk Ditinggali, Ibu Kota Turkmenistan yang Paling Mahal

NEW YORK, - Swiss, negara yang terkenal dengan label-label jam tangan mewah kenamaan dunia, menjadi tuan rumah bagi kota-kota termahal di dunia untuk ditinggali.

Negara tersebut memiliki empat kota yang menempati posisi lima teratas dalam daftar kota termahal di dunia pada tahun ini. Sementara itu, Turkmenistan menjadi negara yang memiliki kota termahal di dunia dengan posisi pertama.

Indeks ini diterbitkan oleh ECA Internasional, yang mengukur biaya hidup di kota-kota di seluruh dunia bagi ekspatriat atau pekerja asing. Pengukuran berkaitan dengan penggunaan barang dan jasa harian.

Riset mencakup perubahan harga antara Maret 2019 dan Maret 2020. Data mulai dari bahan makanan hingga kebutuhan dasar.

Seperti barang-barang rumah tangga, pengeluaran umum, termasuk pakaian, peralatan listrik, makan di luar, keanggotaan di gym, alkohol, dan tembakau. Namun, survei ini tidak mencakup akomodasi, utilitas, dan biaya sekolah.

Survei menunjukkan, Ashgabat, ibu kota Turkmenistan menempati posisi pertama sebagai kota termahal di dunia untuk ditinggali. Posisi ini dipertahankan Ashgabat sejak tahun lalu.

Ibu kota dari negara yang kaya akan minyak dan gas (migas) ini memegang rekor dunia memiliki bangunan terbanyak yang terbuat dari marmer putih.

Meski demikian, perekonomian sedang terganggu karena kemerosotan harga gas. Ini memicu kejatuhan nilai mata uang dan krisis ekonomi, yang mengakibatkan hiperinflasi dan kekurangan pangan.

Sementara pada posisi ke-2 kota termahal ada Zurich, ke-3 Jenewa, ke-4 Basel, dan ke-5 Bern. Kota-kota di Swiss ini menjadi tempat tinggal yang paling menguras isi dompet.

Sebagai perbandingan, sebuah kafe di Zurich menjual cappuccino ukuran sedang serharga 5,98 dollar AS, dibandingkan dengan harga 4,56 dollar AS di New York, 5,01 dollar AS di Hong Kong, dan 3,66 dollar AS di London.

Posisi ke-6 kota termahal ditempati oleh Hong Kong. Padahal, sebelumnya Hong Kong diperkirakan akan keluar dari dalam daftar seiring dengan demonstrasi politik yang terus terjadi sejak tahun lalu.

Steven Kilfedder dari ECA International mengatakan, sebagian perekonomian Hong Kong telah terlindung pegerakkan dollar AS di tengah demonstrasi yang terjadi. Membuat dollar Hong Kong tetap kokoh terhadap dollar AS.

"Selain itu Hong Kong juga menghindari penutupan wilayah yang ketat akibat Covid-19, dan ini membantu perekonomiannya meski berbulan-bulan ada kerusuhan politik di kota itu," kata dia seperti dilansir dari Forbes, Selasa (7/7/2020).