Bisnis

Ojol hingga ART Lebih Takut Hilang Mata Pencaharian Ketimbang Corona

Ojol hingga ART Lebih Takut Hilang Mata Pencaharian Ketimbang Corona

Pandemi Virus Corona menghantam ekonomi semua lini masyarakat saat ini. Salah satu yang paling terdampak adalha para pekerja independen atau gig worker.

Perusahaan modal ventura global, Flourish Ventures merilis survei mengenai bagaimana pekerja independen dalam ekonomi informal Indonesia, seperti para pengemudi berbagi tumpangan atau ride sharing (ojek online/Ojol), penjual online, penyedia jasa rumah tangga (ART), dan kurir pengiriman, mengatasi pandemi COVID-19.

Hasilnya, mayoritas dari responden yang disurvei mengaku ekonominya terhantam pandemi Corona. Sebanyak 86 persen responden menyatakan penghasilan mereka berkurang tajam.

Produsen Kewalahan, Orderan Peti Mati Corona Bisa 40 Buah Per Hari

Dikutip VIVA Bisnis, Minggu 13 September 2020, survei Indonesia Spotlight August 2020 tersebut menunjukkan, jumlah pekerja independen yang berpenghasilan lebih dari Rp3 juta per bulan mengalami penurunan tajam. Atau 43 persen pada Maret menjadi hanya 5 persen pada Juni.

Penurunan tersebut disertai peningkatan jumlah pekerja independen yang berpenghasilan Rp1 juta per per bulan pada periode tersebut. Masing masing dari 8 persen menjadi 55 persen.

"74 Persen responden sangat khawatir tentang COVID-19. Pekerja independen atau lebih khawatir tentang dampaknya pada mata pencaharian mereka (52 persen) daripada pada kesehatan mereka (14 persen)," tulis survei tersebut.

Pekerja independen di kota-kota besar dikatakan paling terkena dampak Virus Corona. Sebanyak 63 persen responden kehilangan penghasilan di kota besar, dibandingkan dengan 49 persen di kota kecil.

"Hampir 60 persen responden mengatakan bahwa jika mereka kehilangan sumber penghasilan utama mereka, mereka tidak akan dapat mencukupi pengeluaran rumah tangga mereka dalam satu bulan tanpa meminjam uang," jelas survei itu.

Managing Partner Flourish Tilman Ehrbeck mengungkapkan, ekonomi dengan sistem pekerja independen memungkinkan jutaan pekerja dalam sektor informal Indonesia. Saat ini secara historis dinilai masih kurang diperhatikan oleh industri finansial. Karena itu, menjadi lebih terhubung ke keuangan digital.

"Dalam penurunan ekonomi akibat pandemi COVID-19, pekerja independen telah secara signifikan terkena dampaknya dan mereka tetap rentan mengalami kesulitan dalam hal finansial,” ungkapnya.

Lebih lanjut dalam survei itu pun terungkap, bagaimana mereka mengatasi kesulitan keuangan kala pandemi. Sebanyak 66 persen responden memilih mengurangi konsumsi makanan yang jadi pengeluaran utama.

Kemudian 61 persen responden, mengatasi masalah ini dengan mencari pekerjaan tambahan. Pekerjaan itu sebagian besar didapatkan melalui platform digital, seperti penjualan ritel online atau pekerjaan berdasarkan permintaan.

Sementara itu Smita Aggarwal, Global Investments Advisor Flourish mengatakan, pandemi yang terjadi menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pekerja independen di Indonesia. Kemampuan beradaptasi mereka dan dorongan kewirausahaan mereka dalam menghadapi kesulitan pun diuji.

"Walaupun pekerja independen telah menunjukkan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi krisis ini, kami percaya terdapat peluang yang berarti untuk platform kerja independen dan fintech guna memenuhi kebutuhan finansial pekerja yang belum terpenuhi. Serta, membantu likuiditas jangka pendek, perlindungan penghasilan dan resiliensi ekonomi jangka panjang,” tambahnya.

Sebagai informasi, Flourish bermitra dengan perusahaan riset 60 Decibels dan perusahaan perintis untuk pekerja independen untuk melakukan survei ini. Survei online terhadap 586 pekerja independen pada Juni 2020.

Dengan rincian 221 pengemudi Ojol, 191 penyedia jasa rumah (seperti asisten rumah tangga atau ahli kecantikan), 109 penjual online, dan 65 kurir pengiriman.