Bisnis

Third Point LLC Minta Prudential Plc Pisahkan Bisnis di Asia, Ada Apa ?

Third Point LLC Minta Prudential Plc Pisahkan Bisnis di Asia, Ada Apa ?

JAKARTA, - Perusahaan aset manajemen asal Amerika Serikat (AS) Third Point LLC minta Prudential Plc memisahkan bisnis di Asia. Third Point saat ini memegang kurang dari 5 persen saham dan merupakan pemegang saham terbesar kedua Prudential.

Adapun kronologi permintaan Third Point, pada 24 Februari dengan mengirim beberapa surat yang ditujukan kepada dewan direksi Prudential yang diwakilkan oleh, Daniel Loeb.

Dalam surat permintaannya, Third Point mengaku kecewa terhadap kinerja keuangan Prudential. Maka dari itu ada tiga alasan Third Point meminta pemisahan bisnis di Asia dan AS.

Ketiga alasan tersebut antara lain, portofolio bisnis saat ini menghalangi investor untuk memiliki PruAsia.

Kedua, manajemen Prudential lebih memprioritaskan pertumbuhan dividen daripada reinvestasi dan ketiga, struktur perusahaan tidak konsisten dengan strategi Asia-Led.

Atas dasar pertimbangan itu, maka Third Point mendesak direksi Prudential untuk segera mengambil sejumlah tindakan dengan membuat dua perusahaan publik yang masing-masing memiliki strategi jangka panjang dengan cara memisahkan Jackson dari PruAsia.

Selanjutnya, Third Point meminta Prudential alih fokus dari pertumbuhan dividen ke strategi peningkatan valuasi jangka panjang sebagai pusat prioritas.

Third point juga meminta agar Prudential menghilangkan biaya seperti duplikasi biaya pusat basis operasional dan eksistensi pusat operasional di UK.

Selanjutnya, untuk melengkapi PruAsia dengan kepemimpinan lokal di tingkat manajemen, Prudential diharapkan bisa memperkenalkan skema insentif yang bisa menghasilkan valuasi jangka panjang sebagai entitas independen.

Indonesia dan Malaysia

Daniel Loeb mengatakan, salah satu keunggulan PruAsia adalah pasar yang menarik di Asia, dengan jejak kaki terkemuka di Asia Tenggara. Hari ini, pasar Asia Tenggara menghasilkan sekitar 60 persen dari total keuntungan PruAsia.

“Kami sangat gembira dengan pertumbuhan jangka pendek di Indonesia dan Malaysia, sebagai dua pasar yang menunjukkan percepatan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Daniel Loeb melalui siaran resmi, Rabu (26/2/2020).