Bisnis

Video Call dengan Nelayan, Susi: Kapal dari Saya Jangan Dijual

Video Call dengan Nelayan, Susi: Kapal dari Saya Jangan Dijual

LAMPUNG SELATAN, - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi pudjiastuti hari ini resmi menyerahkan tiga kapal kepada nelayan di pesisir Lampung. Dalam kesempatan ini, Susi juga meminta agar amanahnya dijaga untuk memudahkan nelayan dalam mencari ikan.

Susi tak bisa hadir langsung dan bercengkrama dengan para nelayan lantaran ada urusan yang tak bisa ditinggalkan. Namun ia tak habis ide. Digunakanlah layanan video call untuk bisa berbincang dengan para nelayan.

"Ini amanah dari saya, tolong jangan dijual. Kan kalau saya bicara, masih ada yang mau bayar saya ratusan juta. Kalau bapak kan (enggak)," kata Susi melalui video call, Minggu (1/12/2019).

Pagi ini tiga kelompok nelayan atau 10 orang nelayan menerima tiga unit kapal beserta dengan mesinnya. Tiga kelompok tersebut berasal dari Desa Canti, Banding dan Betung yang merupakan kecamatan Rajabasa, kabupaten Lampung Selatan.

Sebelumnya, empat orang nelayan atau dua kelompok sudah menerima dua bantuan kapal dari Susi, masing-masing satu kapal pada Sabtu. Kedua kelompok nelayan tersebut berasal dari Dusun Haringin, Kalianda dan Dusun II Bnding. Sehingga total nelayan yang menerima bantuan adalah 14 orang.

Dalam kesempatan itu, Susi menghimbau pada nelayan agar menjaga laut yang merupakan mata pencarian nelayan. Bahkan dengan kapal bermesin, susi berharap nelayan bisa seklaligus memantau jika ada yang mengambil ikan dengan cara menjatuhkan bom.

"Dengan adanya perahu ini, bapak bisa jaga jangan sampai ada yang ngebom atau ada kapal trol. Dengan kapal bermesin kan bapak bisa kejar," jelas Susi.

Susi juga menghibau agar nelayan tidak mengambil benih (bibit) lobster maupun ikan. Ini dilakukan untuk menjaga kelestarian sektor perikanan yang sustainabel, sehingga lobster kecil atau ikan kecil bisa berkembang biak.

"Yang kecil-kecil jangan diambilin ya supaya bisa berkembang biak," ungkap Susi.

Tiga kelompok nelayan yang menerima kapal merupakan nelayan yang sehari-harinya menggunakan sampan dayung. Sampan dayung hanya mampu menampung 30 kg ikan, lagipula sampan sangat sempit untuk dinaiki dan nelayan tidak leluasa.

"Kalau pakai sampan kan maksimal kita bisa angkut 30 kg, tapi kan sekarang kondisi airnya dingin jadi kapasitas hanya 5 kilogram," ungkap Agus seorang nelayan dari desa Betung.

Agus merupakan salah datu nelayan yang terdampak bencana Tsunami pada Desember tahun 2018. Ia mengaku di desanya, ada sekitar 30-an kapal yang porak-poranda diterjang ombak.

Agus sudah menjalani profesi nelayan sejak 1997, namun akibat Tsumani, Agus terpaksa membeli lagi sampan seharga Rp 2 juta agar tetap bisa melaut.

"Bantuan enggak ada, mau beli kapal yang besar enggak punya uang. Kapal kayu besar harganya Rp 30 juta dengan mesin dompleng, Kalau yang dikasih bu Susi ini kan bukan kayu tapi fiber, pasti lebih mahal lagi harganya," ungkap Agus.