Internasional

Iran Janji Bakal Kalahkan Aliansi AS-Israel

Iran Janji Bakal Kalahkan Aliansi AS-Israel

TEHERAN, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Iran Brigjen Amir Hatami menjanjikan bahwa Iran bakal memaksa Amerika Serikat dan Israel merasakan pahitnya kekalahan.

Pernyataan itu disampaikan Hatami di hadapan para veteran pasukan Garda Revolusi Iran, di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Teheran dengan Washington, sejak Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015.

Ketegangan hubungan AS dengan Iran telah mengalami eskalasi dalam sepekan terakhir, dengan Washington mengumumkan telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk karena menuding Iran merencanakan ancaman serangan terhadap AS dan sekutunya.

"Negara Islam Iran dengan bangga akan sekali lagi melalui periode waktu yang sensitif ini dengan kepala tegak dan memaksakan kekalahan pahit kepada aliansi Amerika-Zionis," kata Hatami, merujuk pada AS dan sekutunya, Israel.


Dilaporkan kantor berita semi-pemerintah Iran, ISNA, Jenderal Iran itu mengatakan bahwa AS tidak menahan diri dari persekongkolan dan tipu daya apa pun terhadap Iran, sejak revolusi Islam pada lebih dari 40 tahun lalu.

Sebelumnya diberitakan, Pentagon, pada akhir pekan lalu, telah mengerahkan armada kapal amfibi dan sistem peluncur rudal Patriot miliknya ke wilayah Teluk.

Pengerahan tersebut akan memberi dukungan terhadap kapal perang dan pesawat pembom B-52 yang telah dikerahkan sebelumnya.

Sementara sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan, Selasa (14/5/2019), bahwa peningkatan ketegangan yang terjadi belakangan sebagai ujian tekad, dan menekankan bahwa tidak akan ada perang antara Iran dengan AS.

"Kami maupun mereka (AS) tidak mencari perang. Mereka tahu (perang) itu tidak akan membawa keuntungan apa pun bagi mereka," kata Ali Khamenei.

Teheran pada 8 Mei lalu telah mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan sebagian perjanjian dalam kesepakatan nuklir 2015 dan mengancam akan memulai kembali pengayaan uranium negaranya, apabila tidak ada kesepakatan baru dalam 60 hari setelahnya.

Pengumuman Iran itu datang tepat satu tahun setelah Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 dan kembali memberlakukan sanksi kepada Teheran, memberi pukulan berat bagi perekonomian negara itu.