Internasional

Kapan Dunia Kembali Normal Setelah Pandemi Corona? Ini Jawaban Ahli

Kapan Dunia Kembali Normal Setelah Pandemi Corona? Ini Jawaban Ahli

Virus corona yang menyebar cepat telah mendorong banyak negara di seluruh dunia melakukan penutupan untuk mencegah wabah tersebut.

Langkah-langkah keras telah membatasi interaksi dan kehidupan sehari-hari ratusan juta orang, dari apa yang disebut lockdown dan penutupan sekolah hingga peraturan ketat melarang pertemuan publik.

Ini adalah respon yang tidak pernah terjadi sebelumnya terhadap krisis kesehatan global yang semakin intensif, membuat banyak orang bertanya-tanya kapan kondisi akan kembali normal.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengatakan ia yakin negara itu dapat "mengubah gelombang" dalam 12 minggu, sementara Presiden Donald Trump menyarankan Amerika Serikat dapat membuka lagi negaranya "dengan segera."

Namun, para ahli kesehatan jauh lebih waspada. Sebab, melonggarkan aturan pembatasan demi mengurangi dampak ekonomi dan sosial dapat berisiko pada gelombang kedua kasus virus corona.

"Kita berada di masa lockdown untuk jangka panjang, setidaknya satu atau dua bulan lagi," kata Eric Feigl-Ding, ekonom kesehatan global di Harvard Chan School of Public Health, kepada CNBC Capital Connection hari Senin.

"Virus ini tidak akan hilang dalam tiga minggu ke depan, tidak peduli bagaimana kita ingin membandingkan dengan Wuhan," kata Feigl-Ding, merujuk pada kasus-kasus virus corona di AS.

"Ini bukan Wuhan, kita tidak bisa mengalihkan seperempat dokter dan perawat dari bagian lain negara untuk datang ke satu pusat pandemi seperti yang dilakukan Cina. Jadi, sekali lagi, kita berada di masa ini setidaknya selama dua bulan atau lebih."

Ia mengatakan, mungkin vaksin bisa tersedia lebih cepat dari 12 bulan jika ilmuwan bisa berhasil melewati tahapan ujicoba dan memberikannya kepada banyak orang dengan cepat.

Sejak muncul dari Wuhan, China pada akhir 2019, virus corona telah menyebar ke 190 negara.

Hingga saat ini, virus telah menginfeksi lebih dari 390.000 orang secara global, menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University, dengan angka kematian 17.156 orang.

Suasana Kota London sepi setelah wabah virus corona yang terjadi di Inggris, 19 Maret 2020.Shutterstock Suasana Kota London sepi setelah wabah virus corona yang terjadi di Inggris, 19 Maret 2020.

Wabah tersebut telah diakui sebagai pandemi oleh WHO, dan badan kesehatan PBB berulang kali menggarisbawahi pentingnya setiap negara memberlakukan tindakan kesehatan masyarakat yang luas.

"Saya tidak bisa melihat tiba-tiba minggu depan atau dua minggu dari sekarang semua ini akan berakhir. Saya kira tidak ada peluang untuk itu."

Demikian kata Dr. Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease, dalam sebuah wawancara di acara NBC "TODAY" akhir pekan lalu.

Kapan vaksin siap diluncurkan?

Saat ini, tidak ada vaksinasi yang tersedia untuk virus corona dan para ahli kesehatan tidak ingin vaksin tersebut tersedia untuk umum dalam waktu yang lama.

Diperlukan langkah-langkah intensif dan disrupsi sosial untuk "menekan transmisi ke level rendah," menurut profesor Neil Ferguson dari Imperial College London.

"Kemungkinan langkah-langkah seperti itu --terutama social distancing dalam skala besar-- perlu dilakukan selama berbulan-bulan, mungkin sampai vaksin tersedia," kata Ferguson dalam laporan yang diterbitkan 17 Maret.

Pada laporan yang sama, para ilmuwan di Imperial College London memperkirakan perlu waktu hingga 18 bulan, setidaknya, untuk menemukan vaksin COVID-19.

WHO telah menekankan perlunya warga negara untuk mengambil tindakan kolektif. Badan kesehatan telah mendorong orang di seluruh dunia menerapkan berbagai tindakan higienis.

Kekebalan kelompok vs kurva rata

Satu lagi yang disebut solusi untuk pandemi virus corona dapat terjadi ketika banyak orang telah mengembangkan kekebalan terhadap wabah melalui infeksi.

Konsep kontroversial ini dikenal sebagai "herd immunity" atau "kekebalan kelompok."

Herd immunity sedang diterapkan di Swedia, dan tampaknya diberlakukan di Inggris dan Belanda sebelum kedua negara mengubah pendekatan mereka.

Baik Inggris dan Belanda mengingatkan metode ini kemungkinan akan membanjiri sistem kesehatan dan meningkatkan jumlah kematian.

Sebaliknya, WHO telah berulang kali menekankan pentingnya "meratakan kurva" untuk mengatasi pandemi.

Gagasan meratakan kurva adalah untuk menekan jumlah kasus baru dalam periode yang lebih lama, sehingga orang memiliki akses lebih baik ke perawatan medis.