Internasional

Peneliti UI Digaet Dunia Internasional Tangani Bencana Alam

Peneliti UI Digaet Dunia Internasional Tangani Bencana Alam

VIVA – Universitas Indonesia atau UI, kembali mengharumkan nama bangsa lantaran penelitinya yang tergabung dalam Center for Sustainable Infrastructure Development atau CSID terlibat dalam sebuah proyek inovasi peningkatan ketahanan kota terhadap bencana di sejumlah negara.

Proyek bernama Building European Communities’ Resilience and Social Capital (BuildERS) - Membangun Ketahanan dan Modal Sosial Masyarakat Eropa ini dikoordinasikan oleh Pusat Penelitian Teknis VTT Finlandia dengan melibatkan 17 institusi akademik, pemerintah dan swasta dari 10 negara yang berasal dari Eropa, Indonesia, dan Amerika Serikat.

Dari Indonesia yang menjadi ketua riset adalah Mohammed Ali Berawi yang juga menjabat sebagai Direktur CSID UI. Proyek ini bertujuan meningkatkan ketahanan kota terhadap sebuah bencana dengan berbasis teknologi. Dengan konsep ini, maka deteksi terhadap bencana dapat diketahui serta jumlah korban yang menjadi bencana pun dapat diminimalisir.

Pria yang akrab disapa Ali Berawi ini menjelaskan, dicetuskannya isu ketahanan kota ini bukan tanpa sebab. Pihaknya berpendapat, intensitas jumlah bencana alam semakin meningkat belakangan ini, sehingga diperlukan manajemen dan tata kelola penanganan bencana dan pascabencana yang valid dan baik.

“Ketahanan masyarakat terhadap bencana bergantung pada peran pemerintah dan partisipasi organisasi masyarakat merancang dan menerapkan kebijakan untuk dapat menangani dan memitigasi risiko krisis dan kerugian dari bencana serta bagaimana perilaku warga secara individu dan kolektif untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi bencana,” kata Ali Berawi, Jumat 14 Juni 2019.

Untuk merespons hal ini, saat ini pihak Uni Eropa mendanai penelitian ketahanan bencana melalui skema Horizon 2020 dengan proyek inovasi yang berjudul “Building European Communities’ Resilience and Social Capital (BuildERS) - Membangun Ketahanan dan Modal Sosial Masyarakat Eropa”.

Proyek BuildERS diharapkan mampu menghasilkan sistem ketahanan masyarakat terhadap bencana, tidak hanya dapat diterapkan di Eropa akan tetapi juga pada negara-negara lainnya. Proyek ini dimulai Mei 2019 sampai dengan tahun 2021.

“Ini adalah kolaborasi internasional, sehingga risetnya dilakukan bersama untuk bangun sistem ketahanan kota terhadap bencana. Konsorsium membangun sistem bersama menggunakan IT, terutama mobile phone data,” katanya.

BuildERS akan mengembangkan dan menerapkan teknologi informasi dan media sosial untuk dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dan membangun modal sosial bersama. Dia pun berharap pihaknya dapat berkerja sama erat dengan pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Usaha milik Negara (BUMN), pemerintah daerah dan organisasi masyarakat terkait untuk dapat menerapkan sistem ketahanan berbasis teknologi informasi ini.

“Diharapkan pemanfaatan teknologi informasi ini dapat digunakan untuk manajemen penanganan pada lokasi bencana, bantuan dan penyelamatan. Melalui aplikasi data jaringan handphone diharapkan dapat secara cepat menghasilkan aksi penanganan bencana yang lebih efektif dan responsif,” kata Ali Berawi

Sementara itu, Ketua Konsorsium Builders Pekka Leviäkangas mengatakan, untuk mengejar ketahanan tidak hanya diperlukan solusi teknis dan administratif, tetapi juga harus dimulai dengan pemberdayaan komunitas lokal dan masyarakat.

Memahami risiko dan kerentanan baru, mencegah dan mengurangi kemungkinan bahaya, memprioritaskan pembangunan kapasitas dan peningkatan kesadaran masyarakat merupakan landasan dari suatu ketahanan sosial. Yang terpenting, terdapat juga urgensi untuk lebih fokus pada segmen yang paling rentan dari masyarakat seperti orang tua, orang cacat atau orang miskin.

“Selain pentingnya ketahanan infrastruktur, tentu saja, kita juga harus memikirkan manusia sebagai individu dan sebagai komunitas lokal, yang memegang peranan penting dalam membentuk ketahanan bencana,” katanya

Lebih lanjut dirinya mengatakan, ketangguhan masyarakat tergantung pada sumber daya, keterampilan, dan jaringan sosial, dimana modal sosial dan dukungan dalam situasi krisis menjadi amat penting dalam mensukseskan ketahanan terhadap bencana.