Kesehatan

4 Rekomendasi Komnas Pengendalian Tembakau di Hari Tanpa Tembakau Sedunia

4 Rekomendasi Komnas Pengendalian Tembakau di Hari Tanpa Tembakau Sedunia

, Jakarta Tiga hari sebelum Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati hari ini, video berisi gambar anak-anak merokok dengan santai bersama orangtua mereka, yang diyakini terjadi di sebuah daerah di Indonesia menjadi viral. Video seperti ini tidak hanya muncul sekali ini, tapi sudah beberapa kali di media sosial.

Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan jumlah perokok Indonesia masih sangat tinggi, yaitu 33 persen (ketiga tertinggi di dunia) atau 1 dari 3 orang Indonesia merokok, dengan perokok pria sebesar 63 persen atau 2 dari 3 pria Indonesia merokok. Komnas Pengendalian Tembakau menyatakan, yang perlu menjadi perhatian penuh adalah bagaimana jumlah perokok anak usia 10 – 18 tahun naik dari 7,2 persen (2013) menjadi 9,1 persen (2018), atau sudah hampir 1 dari 10 anak Indonesia merokok.

Menurut Komnas Pengendalian Tembakau, usia tersebut tampaknya tidak mencakup usia anak yang lebih muda seperti yang muncul pada video-video yang viral, sehingga sangat mungkin perokok pemula di Indonesia jauh lebih tinggi. Bagaimana hal tersebut terjadi?

Jika menilik riset yang ada, iklan, promosi sponsor dan harga rokok menjadi faktor yang memengaruhi anak mulai merokok. Hal tersebut menodorng tingginya jumlah prokok di sebuah negara. Di Indonesia, promosi, dan sponsor rokok masih sangat masif, serta harga rokok masih sangat terjangkau di kantong anak-anak. Hal tersebut disampaikan oleh Komnas Pengendalian Tembakau melalui siaran pers yang diterima Health-Liputan6.com.

Selain berbagai taktik yang dilancarkan industri rokok untuk menggaet anak muda, Komnas Pengendalian Rokok juga menyebut aturan pengendalian tembakau di Indonesia masih sangat lemah hingga berdampak pada tingginya jumlah perokok, termasuk perokok anak.

Hal ini kemudian memicu berbagai masalah di Indonesia, seperti tingginya angka penyakit tidak menular di Indonesia yang kemudian berdampak pada defisitnya BPJS, sulitnya program pengentasan kemiskinan, tingginya prevalensi stunting, hingga berdampak pada kerugian ekonomi makro Indonesia sampai 600 triliun.

Mengenai hal ini, dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, berkata, “Cara-cara manipulatif yang dilakukan industri rokok demi melanggengkan bisnis buruknya sangat berbahaya dan mengancam masa depan Indonesia, terutama karena yang mereka target adalah anak-anak kita.”