Kesehatan

Perkembangan Vaksin Covid-19, 35 Perusahaan Adu Cepat Uji Coba Manusia

Perkembangan Vaksin Covid-19, 35 Perusahaan Adu Cepat Uji Coba Manusia

, Jakarta Ada sekitar 35 perusahaan dan lembaga akademik berlomba untuk membuat vaksin Covid-19, empat di antaranya sudah dijadikan kandidat yang telah mereka uji pada hewan.

Seperti dilansir the Guardian, vaksin pertama yang diproduksi oleh biotech firm Moderna yang berbasis di Boston akan segera memasuki uji coba manusia.

Ini merupakan perkembangan yang luar biasa cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya (biasanya pengembangan vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun baru bisa diuji coba pada manusia).

Seperti diketahui, produsen pabrik vaksin melalui tahap panjang sebelum memberikan vaksin kepada seseorang. Mereka bertanggung jawab secara resmi terhadap jaminan kualitas (mutu), keamanan dan efektifitas vaksin yang beredar, dan menjamin bahwa apabila diberikan kepada masyarakat.

Vaksin yang diberikan juga, menurut WHO, harus melalui berbagai uji keamanan, efikasi dan berbagai uji klinis terhadap kemungkinan munculnya efek simpang, cara pencegahannya dan cara penanganannya kalau efek simpang ini terjadi.

Dalam uji klinis (clinical trials) ini dipelajari juga absorpsi, distribusi, metabolisme,dan ekskresi dari bahan farmasi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia agar didapat informasi tentang efikasi dan keamanan dari produk farmasi tersebut. Uji klinis biasanya dibagi menjadi fase I—IV, fase IV dimaksimalkan sebagai studi klinis yang menentukan setelah produk farmasi mendapat izin beredar dan telah dipakai oleh masyarakat luas

Dalam hal Covid-19, para ahli sepakat kecepatan penelitian vaksin tidak terlepas dari upaya China yang sejak awal mengurutkan genetik Sars-CoV-2, atau lebih dikenal dengan virus corona (virus yang menyebabkan Covid-19). Sars-CoV-2 berbagi sekitar 80% -90% dari materi genetiknya dengan virus yang menyebabkan Sars - karena itulah dinamakan demikian.

Para ahli di China telah membagikan urutan genetiknya sejak awal Januari, sehingga memungkinkan para peneliti di seluruh dunia untuk mengembangkan virus dan mempelajari bagaimana virus tersebut menyerang sel manusia dan membuat orang sakit.

Ada alasan lain pengembangan vaksin dipercepat, yaitu karena flu umumnya menimbulkan risiko pandemi terbesar, meskipun belum tentu akibat virus corona. Ahli vaksinologi telah bertaruh dalam mengerjakan prototype patogen ini.

"Kecepatan saat ini (sehingga menghasilkan kandidat-kandidat vaksin) sangat bergantung pada investasi dalam memahami bagaimana mengembangkan vaksin untuk virus corona lain," ujar Richard Hatchett, CEO nirlaba Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (Cepi) yang berbasis di Oslo, yang memimpin upaya untuk membiayai dan mengoordinasikan pengembangan vaksin Covid-19.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.