Kesehatan

Rencana Preman Pasar Awasi Protokol Kesehatan Dinilai Bertentangan dengan Upaya Memberantas Premanisme

Rencana Preman Pasar Awasi Protokol Kesehatan Dinilai Bertentangan dengan Upaya Memberantas Premanisme

JAKARTA, - Rencana  Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono memberdayakan preman pasar untuk membantu pengawasan protokol kesehatan dinilai bertentangan dengan upaya memberantas premanisme.

"Kalau benar yang dimaksud Wakapolri 'jeger-jeger' itu adalah preman-preman pasar, sepertinya pandemi Covid-19 ini membuat Wakapolri sesat pikir," ujar pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto saat dihubungi Kompas.com, Jumat (11/9/2020).

"Ini bertolak belakang dengan upaya pemberantasan premanisme," ucap Bambang.

Menurutnya, masih ada satpol PP, pihak pemda selaku pengelola pasar, serta satuan pengamanan (satpam) yang dapat diberdayakan.

Apalagi, satpam termasuk bentuk pengamanan swakarsa binaan Polri sesuai Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

"Kalau Wakapolri paham, harusnya lebih mengutamakan komponen-komponen yang sudah berada dalam binaannya. Bukan malah memberdayakan preman," ujarnya.

Bambang berpandangan, ada cara lain yang dapat dilakukan Polri untuk mendisiplinkan protokol kesehatan di pasar, yakni menindak tegas penanggung jawab pasar yang bandel.

Kemudian, Polri juga dapat menutup pasar sebagai opsi terburuk hingga pengelola mematuhi protokol kesehatan.

Selama pandemi Covid-19, Bambang menilai, aparat kepolisian seharusnya melaksanakan tugas sesuai UU, yaitu dalam penegakan hukum dan menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat.

"Di Blitar, Jawa Timur, saya dengar kabar Sabtu besok akan diadakan judi sabung ayam besar-besaran. Hal-hal semacam inilah yang harus jadi fokus kepolisian," ucap dia.

Diberitakan, Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono berencana memberdayakan preman pasar untuk membantu pengawasan protokol kesehatan di pasar.

“Kita juga berharap penegak disiplin internal di klaster pasar, di situ kan ada 'jeger-jegernya' di pasar, kita jadikan penegak disiplin," kata Gatot di Mako Polda Metro Jaya, Kamis (10/9/2020) seperti dilansir dari ANTARA.

Kendati demikian, menurut Gatot, TNI-Polri akan tetap mengawasi para preman tersebut agar tidak melanggar aturan dan tetap mengedepankan cara humanis.