LifeStyle

5 Alasan Pentingnya Wisata Edukasi ke Museum

5 Alasan Pentingnya Wisata Edukasi ke Museum

KOMPAS.com - Museum menurut pemerintah adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi,dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.

Koleksi museum bisa berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya dan/atau Bukan Cagar Budaya.

Koleksi tersebut merupakan bukti material hasil budaya dan/atau material alam dan lingkungannya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kebudayaan, teknologi, dan/atau pariwisata.

Museum sendiri terbuka untuk kunjungan masyarakat. Namun, mengapa kita harus berwisata edukasi ke museum?

Berikut lima alasan harus mengunjungi museum seperti dihimpun Kompas.com dari Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Supadma Rudana.

1. Pusat Edukasi

"Pertama adalah museum menjadi pusat edukasi, pendidikan untuk masyarakat,” kata Putu.

Museum memiliki informasi-informasi koleksi yang beragam. Masyarakat bisa mengetahui kehidupan di masa lampau melalui informasi-informasi yang tersaji bersama koleksi museum.

2. Inspirasi

“Kedua inspirasi. Bagaimana museum ini memberikan inspirasi masa lalu, kejayaan masa lalu, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit,” jelasnya.

Menurutnya, museum memiliki inspirasi yang bisa diserap oleh masyarakat. Lewat museum, masyarakat bisa menciptakan mimpi untuk mengisi kekinian Indonesia.

3. Rumah kebudayaan tertinggi

“Ketiga, museum menjadi rumah kebudayaan tertinggi karena masyarakat bisa melihat karya-karya budaya ada di museum,” jelasnya.

Di museum, kamu bisa meelihat perkembangan budaya Indonesia dari masa-masa. Perkembangan budaya bisa kamu lihat dari koleksi-koleksi museum.

4. Rumah peradaban

Selanjutnya, alasan keempat adalah museum sebagai rumah peradaban yang mulia. Ia mengatakan museum adalah rumah bagi semua pihak dan di museum juga menjaga peradaban untuk tetap eksis.

5. Ruang berinteraksi

“Kelima, museum menjadi tempat interaksi dan berdialog. Tak hanya berdialog tentang hal sehari-hari tapi berdialog tentang seni dan budaya, mahakarya, jati diri dan karakternya,” ujar Putu.