LifeStyle

Curahan Hati Warga Asing Terjebak Teror Virus Corona di Wuhan

Curahan Hati Warga Asing Terjebak Teror Virus Corona di Wuhan

Keganasan virus corona yang menyebar di Wuhan, China, telah menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya berjuang menghadapi infeksi mematikan itu. Setidaknya lebih dari 10 kota di China sudah ditutup untuk karantina demi menghambat penyebaran yang lebih luas lagi.

Kota Wuhan dan beberapa kota lainnya mendadak berubah menjadi kota zombie, demikian gambaran warga lokal di sana. Mereka dicekam ketakutan dan nyaris kehabisan bahan pangan.

Tak hanya bagi warga lokal, sejumlah warga asing yang kebetulan berada di China juga terpaksa menghadapi teror yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Seperti yang dialami seorang pelajar asal India, Chongthan Pepe Bifhowjit .

"Minggu lalu situasinya stabil tapi segalanya berubah secara drastis. Ini membuatku sangat takut. Aku tidak pernah menghadapi ini sebelumnya," ujar mahasiswa di Wuhan University of Technology ini kepada BBC.

Beruntung, pihak kampus memperlakukan mahasiswanya dengan baik. Mereka memeriksa suhu tubuh para mahasiswa setiap hari dan memberikan masker gratis. Kampus juga menyediakan rumah sakit dan ambulansnya sendiri.

"Kami disarankan untuk mencuci tangan setiap jam, menghindari makan di luar dan menggunkan masker setiap kali keluar ruangan. Kami semua tinggal di dalam kamar kami dan hanya mengunjungi teman di kamar yang dekat dengan kamar kami," ujarnya.

Kekhawatiran yang sama juga dialami oleh pelajar internasional lain yang sudah tinggal di Wuhan selama enam tahun. Di dalam grup chat ia terus mendapat informasi mengenai apa yang terjadi oleh orang-orang yang membacanya di internet. Jadi, sulit baginya membedakan mana yang benar dan tidak.

Ia juga diminta untuk tetap tinggal di kamar dan tidak keluar kecuali untuk urusan yang sangat penting. Karena ia tinggal di asrama universita, maka semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh pihak kampus.

Mahasiswa lain bernama Daniel Pekarek yang berkuliah di Wuhan University menceritakan bagaimana orang-orang di Wuhan tidak bisa keluar atau masuk dengan mudah.

"Aku tidak bisa keluar apartemen. Aku bisa berjalan kaki di Wuhan tapi transportasi publik semua diblokir saat ini," kata mahasiswa teknik perangkat lunak ini.

Bahkan ia terancam akan kehabisan air karena tidak membayarnya.

"Di sini sangat rumit, aku harus mengambil kartu dan aku harus pergi ke kantor khusus untuk membayarnya tapi semua orang sedang keluar karena ini Tahun Baru China dan tidak ada siapa-siapa di dekatku yang bisa berbicara bahasa China karena pacarku sedang keluar kota," lanjut dia.

Seorang pelajar internasional lain yang mencoba keluar Wuhan juga menceritakan bahwa penerbangan menuju dan keluar Wuhan semuanya dibatalkan.

"Ini cukup sepi. Tidak ada taksi di mana-mana. Kebanyakan orang yang kami temui di supermarket pada dasarnya adalah orang asing yang sekarang mencoba menyimpan stok di lemari es mereka," ungkap pelajar itu.

Sementara itu, lanjut dia, kebanyakan warga China lebih terinformasi karena menggunakan Weibo, mereka menggunakan platform media sosial lain yang tidak banyak digunakan orang asing. Dan, sebelum orang-orang masuk ke penginapan, petugas akan mengarahkan sesuatu ke kening mereka untuk mencatat suhu tubuh.

"Jadi kebanyakan orang asing pada dasarnya berada di ruangan mereka dan tidak keluar setelah pukul 17.00," katanya.

Selain itu, di bandara dan berbagai tempat lainnya, ada mobil-mobil polisi yang menghadang jalan. Mereka memberikan pengarahan bahwa kecuali ada sesuatu yang serius, pergerakan tidak diizinkan dan mereka memberikan nomor darurat jika ada yang mengalami gejala. Mereka akan datang dan menjemput.