Nasional

Covid-19: Fakultas Teknik UPI Y.A.I Galang Solidaritas Bantu Mahasiswa

Covid-19: Fakultas Teknik UPI Y.A.I Galang Solidaritas Bantu Mahasiswa

Dampak sosial dan ekonomi akibat merebaknya COVID-19 telah dirasakan berbagai lapisan masyarakat, termasuk para mahasiswa, terutama mahasiswa perantau yang tinggal di asrama, kontrakan, dan kos.

Tidak sedikit yang mengeluh karena kesulitan mengakses kebutuhan pangan, uang saku yang semakin habis, adanya pembatasan mobilitas di suatu wilayah, hingga banyaknya tempat-tempat makan yang tutup.

Setelah kuliah tatap muka ditiadakan akibat pandemi COVID-19, sebagian mahasiswa perantau pulang kampung.

Namun, akibat kesulitan ekonomi dan pembatasan wilayah di daerah asal, sebagian mahasiswa perantau bertahan di kampus dan sekitarnya.

Pandemi COVID-19 membuat mahasiswa perantauan serba salah. Mereka tegas tak ingin pulang kampung membawa risiko di tengah pandemi.

Namun, pilihan itu juga berisiko karena memenuhi kebutuhan sehari-hari juga tak ringan. Bantuan sesama mahasiswa pun jadi salah satu cara bertahan.

Pada Kamis, 14 Mei 2020, Fakultas Teknik Universitas Persada Indonesia Y.A.I bersama Himpunan Mahasiswa Teknik memberikan sembako langsung kepada mahasiswa yang tidak dapat mudik karena pemberlakuan PSBB di situasi saat ini.

Bantuan tersebut diberikan oleh Dekan Fakultas Teknik dan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan serta perwakilan dari Himpunan Mahasiswa (Himmars, Himsip, Himmatri, dan Himti) untuk mahasiswa yang mudik di wilayah Jakarta.

Kegiatan ini sebagai  kepedulian dari civitas akademika di fakultas teknik Universitas Persada Indonesia Y.A.I (dekanat/ kaprodi) dalam masa pandemi COVID-19.

Dimana mahasiswa perantau tidak tersentuh perhatian. Sesuai dengan arahan Rektor UPI Y.A.I Prof. Dr. Ir. H. Yudi Julius, MBA dalam kegiatan ini mereka pun sangat memperhatikan social distancing.

Selama pandemi COVID-19 para mahasiswa tak pulang ke kampung halaman demi memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Yudi Julius pun menghimbau mahasiswa bahwa jangan sampai karena merasa sehat lantas memaksakan diri pulang kampung dan malah menyebarkan virus COVID-19 ke orang tua, hingga akhirnya menyesal.

“Sehat saat ini, bukan berarti terbebas dari virus COVID-19. Tak sedikit dari orang yang terlihat sehat dan tanpa gejala COVID-19, justru menjadi carrier yang menyebarkan virus COVID-19. Besarnya rindu dengan orang tua, masih bisa diobati dengan telepon ataupun video call. Tapi jika memaksakan diri pulang kampung dan terjadi hal tak diinginkan, penyesalan tak ada gunanya. Apalagi mengakibatkan orang-orang yang dicintai di kampung tertular,” papar Yudi.

Ia juga menambahkan para mahasiswa sebagai kalangan terdidik harus membantu pemerintah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kewaspadaan menghadapi COVID-19.

“Bisa dimulai dengan mengedukasi keluarga dan lingkungan terdekat. Pastikan orang tua dan keluarga di kampung halaman melakukan physical distancing dan memakai masker jika pergi keluar rumah, serta mencuci tangan secara berkala,” tutupnya.