Nasional

Fakta-fakta Penyebab Banjir Jakarta

Fakta-fakta Penyebab Banjir Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mendapatkan kritik dan hujatan atas terjadinya banjir yang merendam Ibu Kota Indonesia pada Selasa, 25 Februari 2020. Namun masih saja  ada yang menilai Anies memiliki banyak prestasinya.

Aktivis Sosial dari Mer-C (Medical Emergency Rescue Committe), Geisz Chalifah mengatakan banjir terjadi bukan cuma di Jakarta saja tapi juga beberapa wilayah seperti Pekalongan, Bekasi lumpuh.

"Kalau kita melihat banjir Jakarta, rujukannya adalah ke belakang. Jakarta itu tempatnya air, ada Rawabadak, rawa macam-macam. Itu artinya, resapan air," kata Geisz seperti dikutip dari tvOne pada Kamis, 27 Februari 2020.

Geisz menyampaikan pandangannya dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang disiarkan tvOne pada Selasa malam, 25 Februari 2020 dengan tema #ILCSalahkahAnies.

Di sini, Geisz memaparkan fakta-fakta bahwa banjir Jakarta banyak faktor sehingga tidak bisa menyalahkan Anies sepenuhnya. Selain itu, ia menilai Anies juga punya banyak prestasi selama memimpin ibu kota ini.

Puluhan tahun Jakarta dirusak

Geisz menjabarkan data-data bahwa Jakarta telah dirusak, padahal sudah diketahui kota ini merupakan resapan air. Misalnya, Kelapa Gading sekitar 3.182 hektare disulap menjadi makro supermarket, Bukit Gading Vila, residence dan lainya.

Kemudian Pantai Indah Kapuk (PIK), sekitar 2.053 hektare menjadi Damai Indah Kapuk Golf dan lain-lain. Selanjutnya, kawasan Sunter sekitar 3.605 hektare menjadi Sunter Agung, otomotif dan sebagainya.

Daerah Senayan sekitar 689 hektare menjadi Plaza Senayan, Hotel Mulia dan lain-lain. Wilayah Tomang sekitar 172 hektare menjadi Senayan City, Taman Anggrek, Mediterania Garden dan lainnya.

"Apa itu artinya semua? Artinya, sekian puluh tahun kita merusak kota ini kok, tiba-tiba kita ingin rapi selama 2 tahun. Nalar apa yang kita pakai?," kata Geisz.

Sepertinya, kata dia, semua tidak punya kepedulian terhadap lingkungan selama ini. Karena, sudah tahu Jakarta ini wadahnya air, tempat-tempat resapan air tapi kena bangun properti dan bangun mall.

"Tapi tidak punya alternatif pengganti, terus minta semua masalah banjir 2 tahun selesai? Logikanya apa?," ujarnya.

Banjir berkali-kali bukan cuma era Anies

Geisz mengatakan untuk melihat kinerja Anies, itu tidak bisa memakai survei tapi harus pakai data. Menurut dia, tentang banjir di masa lalu dan masa sekarang itu bisa dilihat dari BPBD Provinsi Jakarta. "Itu jelas datanya," kata dia.

Banjir di tahun 2015, kata dia, ada 702 RW (rukun warga). Tahun 2020, ada 390 RW yang tergenang pada 1 Januari 2020. Sementara ada 296 RW pada Selasa, 25 Februari 2020.

"Apakah di 2016 tidak banjir berkali-kali? Banjir berkali-kali. Jadi jangan ngarang saudara Guntur Romli (PSI) bahwa banjir berkali-kali hanya di masa sekarang, enggak," ujarnya.

Menurut dia, banjir setiap tahun terjadi berkali-kali karena drainase kondisinya tidak bagus dan resapan air juga telah diambil oleh properti. Makanya, sudah terlalu banyak dirusak.

"Jadi setiap hujan besar agak mudah banjir dan itu tidak harus di satu tempat, bisa berganti-ganti dimana-mana tempat yang kebetulan resapannya disitu airnya sedang besar dan masuknya agak lambat," jelas dia.

Perlu dicatat, kata Geisz, bahwa Anies tidak pernah mengucapkan Jakarta tak akan banjir jika hujan turun berhari-hari. "Anies tidak pernah mengatakan kalau pun Tuhan menghadirkan hujan berhari-hari, Jakarta tidak akan banjir," katanya.