Nasional

Karena Bebas Diakses, Media Sosial jadi Wadah Tebar Paham Radikalisme

Karena Bebas Diakses, Media Sosial jadi Wadah Tebar Paham Radikalisme

Saat ini media sosial dituding menjadi wadah untuk memperluas paham radikalisme, karena bisa diakses oleh siapa saja.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin mengaku, karena begitu mudahnya diakses maka media sosial sangat berpotensi untuk menjadi tempat masuknya nilai-nilai radikal.

"Artinya, media sosial bisa disalahgunakan oleh masyarakat," kata dia di Jakarta, Senin, 11 November 2019. Oleh karena itu, harus dilakukan antisipasi untuk mencegah meluasnya paham radikalisme. Salah satunya bekerja sama dengan pemerintah daerah.

"Ini dilakukan agar secepatnya dilakukan identifikasi hingga menghapus konten radikalisme, di antaranya seperti tata cara membuat bom ataupun pemahaman soal jihad," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Kewaspadaan Nasional Kementerian Dalam Negeri, Akbar Ali, memandang beberapa kelompok aksi radikalisme tidak hanya berjuang secara door-to-door, tetapi memanfaatkan media sosial dalam rangka memperjuangkan keyakinan mereka.

"Kita harus menyampaikan ke masyarakat supaya tidak takut dengan aksi radikalisme dan sejenisnya," tutur Akbar.

Keduanya pun sepakat mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk melakukan kontra atau pencegahan terhadap konten radikalisme. Contohnya, membuat kampanye hingga menurunkan atau take down konten.

Dengan begitu, langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika akan lebih efektif. "Mulai dari kampanye hingga mentake-down. Ini bagian dari antisipasi atau mencegah konten-konten radikalisme," ujarnya.

Kendati demikian, baik Kamaruddin maupun Akbar, mengaku belum meminta atau melakukan koordinasi terkait konten radikalisme di media sosial kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika. "Belum. Mungkin ke depannya bisa lebih bersinergi lagi," jelas dia.