Nasional

Kementerian PUPR Kerahkan 280 Personel Atasi Dampak Banjir di Jabodetabek

Kementerian PUPR Kerahkan 280 Personel Atasi Dampak Banjir di Jabodetabek

JAKARTA, - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengerahkan 280 pegawai ke 180 titik di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) untuk mengatasi persoalan banjir.

Seperti di kawasan Perumahan Kemang Pratama, Bekasi, di sana terjadi banjir yang disebabkan oleh jebolnya tiga tanggul karena tak mampu menahan debit air akibat curah hujan yang mulai tinggi.

Pihaknya pun akan memperbaiki kerusakan tersebut, termasuk pompa penyerapan air banjir yang rusak.

"Hari ini kami menerjunkan 280 pegawai PUPR ke 180 titik, kayak di Kemang Pratama ada yang jebol. Di tempat lainnya, misalnya pompa yang rusak, kami akan menginventarisasi. Senin akan kami kerjakan," ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono ditemui di Kantor Kemenko Maritim dan Investasi, Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Penerjunan tim PUPR ini sekaligus mengatisipasi adanya curah hujan yang diprediksi tinggi hingga Maret 2020.

Bahkan, Basuki mendapat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) jika puncak curah awal hujan bakal terjadi pada 11-15 Januari 2020 ini, yang disebabkan masuknya aliran udara basah dari arah Samudra Hindia.

"Ini kami kerjakan, karena mengejar tanggal yang katanya mau jadi (puncak curah hujan), 11, 12, 13, 14, 15 (Januari 2020) kan, itu kita akan persiapan di situ," katanya.

Sebelumnya BMKG mengungkapkan, curah hujan yang terjadi di Jabodetabek pada awal tahun 2020 merupakan yang paling ekstrem sepanjang sejarah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menyatakan, curah hujan pada awal 2020 ini merupakan yang tertinggi selama ada pencatatan curah hujan sejak 1866 silam.

"Curah hujan ekstrem awal tahun 2020 ini merupakan salah satu kejadian hujan paling ekstrem selama ada pengukuran dan pencatatan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya," kata Herizal dalam keterangan tertulis, Jumat (3/1/2019).

Herizal menuturkan, pengukuran curah hujan tertinggi tercatat di Bandara Halim Perdanakusuma: 377 mm/hari, di TMII: 335 mm/hari, Kembangan: 265 mm/hari; Pulo Gadung: 260 mm/hari, Jatiasih: 260 mm/hari, Cikeas: 246 mm/hari, dan di Tomang: 226 mm/hari.

Menurut Herizal, sebaran curah hujan ekstrem tersebut lebih tinggi dan lebih luas daripada kejadian banjir-banjir sebelumnya, termasuk banjir Jakarta 2007 dan 2015.