Nasional

Viral Sopir Truk Tabrak Babi di Papua, Polisi Turun Tangan

Viral Sopir Truk Tabrak Babi di Papua, Polisi Turun Tangan

Media sosial diramaikan video dugaan penganiayaan sekelompok orang terhadap sopir truk ke Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua. Diduga, sopir truk itu menabrak seekor babi.

Dari video yang beredar, terlihat sejumlah aparat Brimob berupaya menenangkan para warga yang. Tapi, tetap saja sopir dipukul pakai bambu panjang.

Video diunggah ke YouTube oleh akun Percikan Iman dengan judul 'Tabrak Babi di Papua, dipukul batu sampai mati' pada Kamis, 27 Februari 2020.

"Pelajaran buat yang lain, hati-hati jika berkendara. Jangan sampai kayak bapak ini tidak sengaja tabrak seekor babi dan nyawa pun melayang. Semoga bermanfaat," tulisnya yang dikutip pada Jumat, 28 Februari 2020.

Sementara Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw mengaku sudah menurunkan tim untuk menyelidiki kasus meninggalnya sopir truk tersebut.

"Kami menurunkan tim, baik itu dari Propam Polda Papua dan dibantu oleh anggota Mapolres Nabire serta Mapolsek Kamu," kata Paulus seperti dilansir VIVAnews.

Menurut dia, tim akan mencoba mengklarifikasi dan mencari fakta untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dalam peristiwa tersebut. Kemudian, Paulus mengaku prihatin terhadap kasus penganiayaan ini. Menurut dia, korban diduga menjadi salah sasaran kelompok orang yang emosi.

"Saya dapat informasi korban dicurigai merupakan pelaku tabrak lari. Namun, ternyata bukan dia sebenarnya. Dan kami akan tindak para pelaku," ujarnya.

Bantah Brimob biarkan penganiayaan

Dari video, memang ada sejumlah anggota Brimob yang berupaya meredam warga yang melakukan penganiayaan terhadap sopir truk.

Namun, Paulus membantah kabar adanya pembiaran dari anggota di lapangan tersebut. Menurut dia, anggota di lapangan sudah benar melakukan prosedur melindungi terhadap korban.

Namun, kata dia, sejumlah warga malah seperti main hakim sendiri tanpa mengetahui peristiwa sesungguhnya.

"Harus ditekankan yang seharusnya tidak boleh dilakukan adalah main hakim sendiri oleh sekelompok orang, di mana kejadian tersebut sudah ditangani oleh anggota kami di lapangan. Bukan malah menyalahkan aparat," tuturnya.