Politik

3 Tokoh Papua yang Jadi Staf Khusus Presiden

3 Tokoh Papua yang Jadi Staf Khusus Presiden

Presiden Jokowi resmi mengangkat tujuh Staf Khusus dari kalangan milenial. Salah satunya Gracia Billy Mambrasar yang berasal dari Papua. Dengan demikian, jumlah Staf Khusus Presiden mencapai 14 orang.

Selain Billy, sapaan akrab Gracia Billy Mambrasar, sebelumnya ada tokoh Papua lain yang menjabat sebagai Staf Khusus Presiden. Berdasarkan data yang diolah VIVA, Jumat, 22 November 2019, berikut daftar tokoh Papua yang menjadi Staf Khusus Presiden:

Velix Wanggai

Velix V. Wanggai

Lahir di Jayapura, Papua, 16 Februari 1972, Velix adalah seorang aktivis, ahli hubungan internasional dan politisi Indonesia. Ia resmi diangkat menjadi Staf Khusus Presiden pada 20 November 2009.

Putra dari pasangan Sofyan Wanggai dan Ita Nurlita ini dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi staf khusus yang bertugas membantu memberi masukan pada presiden tentang hal-hal yang berhubungan dengan pembangunan daerah dan otonomi daerah di Indonesia.

Sebelumnya, suami dari Herwin Meiliantina dan telah dikaruniai empat orang anak itu, berkarier sebagai Staf Perencana pada Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Lenis Kogoya

Staf Khusus Presiden untuk Papua, Lenis Kogoya.

Pria kelahiran Pidewi, Papua, 5 Juli 1977 ini mulai menjabat sebagai Staf Khusus Presiden pada Juni 2015. Lenis Kogoya dikenal sebagai ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua.

Latar belakang sebagai kepala suku membuatnya menjadi rujukan untuk setiap kondisi Papua. Ia kerap mengunjungi titik terpencil di Bumi Cenderawasih.

Lenis menilai menjadi orang di lingkaran satu Presiden Jokowi sebagai sejarah baru. Ia sempat menegaskan hanya di pemerintahan Jokowi orang pedalaman bisa masuk Istana.

Gracia Billy Mambrasar

Pendiri Pusat Belajar Kitong Bisa Gracia Billy Mambrasar merupakan tokoh muda Papua yang tengah menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Oxford, Inggris.

Gelar tersebut merupakan gelar keduanya, setelah menyelesaikan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015.

Dalam waktu dekat, ia juga akan melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat, dalam bidang pembangunan manusia.

Billy lahir di Serui, Kepulauan Yapen, Papua, 31 tahun silam. Ia lahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya berprofesi sebagai guru, sedangkan ibunya membantu ekonomi keluarga dengan menjual kue.

Ia mengaku, dengan pengalaman selama 9 tahun ke daerah-daerah timur untuk menjadikan anak-anak muda sebagai seorang enterpreneurship, hal tersebut akan dibawa saat menjabat sebagai Staf Khusus Presiden.

Billy berkomitmen untuk membangun tanah kelahirannya agar lebih maju dan mengubah persepsi bahwa membangun Indonesia harus dari Papua.

Sebagai informasi, Staf Khusus Presiden adalah lembaga nonstruktural yang dibentuk untuk memperlancar pelaksanaan tugas Presiden, yang melaksanakan tugas tertentu di luar tugas-tugas yang sudah dicakup dalam susunan kementerian dan instansi pemerintah lainnya.

Masa bakti Staf Khusus Presiden paling lama sama dengan masa jabatan Presiden yang bersangkutan. Dalam sejarah Republik Indonesia, lembaga Staf Khusus Presiden baru ada pada saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden.

Staf Khusus Presiden bersifat operasional, karena menempel kegiatan Presiden 24 jam lamanya. Staf Khusus Presiden diangkat oleh Presiden melalui Keputusan Presiden.