Politik

Pesan Amien Rais ke Jokowi: Terus atau Mundur

Pesan Amien Rais ke Jokowi: Terus atau Mundur

Tokoh Politik Indonesia, Amien Rais kembali mengkritik Presiden Joko Widodo. Kritikan ini disampaikan oleh Amien Rais melalui video singkat berserinya yang berjudul 'Pernyataan Amien Rais Untuk Jokowi: Terus atau Mundur'.

 Dapat Tanda Jasa dari Jokowi, Fahri Hamzah Janji Terus Kritik Presiden

Amien mengunggah video tersebut dalam akun instagram resminya @amienraisofficial pada Rabu 12 Juli 2020. Dalam video seri pertama tersebut, Amien Rais mengatakan bahwa Jokowi dalam kekuasaannya telah menerapkan Politik Pecah Belah dan ini berbahaya bagi keutuhan bangsa.

"Sejak Jokowi jadi presiden pada periode pertama 2014-2019, diteruskan pada periode kedua sekarang ini perkembangan politik nasional bukan semakin demokratis. Tetapi malahan kian jauh dari spirit demokrasi. Tidak berlebihan bila saya katakan hasil pembangunan politik di masa Pak Jokowi telah memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia," kata Amien dalam video yang dikutip VIVA.co.id pada Kamis 13 Agustus 2020.

Amien menilai kecurigaan dan ketakutan Jokowi pada umat Islam yang bersikap kritis dan korektif dapat dengan jelas dirasakan. Selain itu, Amien juga menilai rezim beberapa kali terindikasi melakukan kriminalisasi dan persekusi terhadap para ulama.

"Saudara-saudaraku, sebagai presiden seharusnya Pak Jokowi berpikir bekerja dan terus berusaha supaya tidak jadi pemimpin partisan. Membela sekitar separuh anak bangsa tapi menjauhi bahkan kelihatan memusuhi sekitar separuh anak bangsa yang lain. Politik partisan semacam ini tidak bisa tidak, cepat atau lambat membelah bangsa Indonesia," kata Amien

Pendiri Partai Amanat Nasional ini juga mengatakan Presiden tidak boleh hanya mementingkan sejumlah kelompok yang menjadi kawan saja. Tetapi juga harus bersikap adil terhadap kelompok lain yang kerap bersikap kritis.

"Tidak boleh seorang presiden terjebak pada mentalitas koncoisme. Sekeping contoh saya kemukakan tatkala jutaan umat Islam berunjuk rasa secara damai pada tanggal 4 November 2016, tiga orang utusan mereka (pendemo) ingin bertemu dengan Pak Jokowi. Tapi ditunggu dari pagi sampai larut senja Pak Jokowi di hari itu seharian meninggalkan istana," ujarnya

Menurut Amien, hal itu bukanlah contoh yang baik seorang pemimpin sebab Jokowi seakan tidak mendengarkan aspirasi dari massa yang jumlahnya sangat besar. "Sampai sekarang penyakit politik bernama partisanship tetap menjadi pegangan rezim Pak Jokowi dalam menghadapi umat Islam yang kritis terhadap kekuasaannya," ujarnya

Munculnya buzzer bayaran juga tak luput dari sorotan Amien Rais. Hal tersebut, kata Amien, menambah kuat dugaan bahwa strategi politik Jokowi adalah memecah belah bangsa.

"Para buzzers bayaran dan juga para jubir istana di berbagai diskusi atau acara dibanyak stasiun televisi semakin menambah kecurigaan banyak kalangan terhadap politik Jokowi yang beresensi politik belah bambu, menginjak sebagian dan mengangkat sebagian yang lain,” ujarnya.