Tekno

Generasi Milenial Lebih Suka Gojek Ketimbang Grab

Generasi Milenial Lebih Suka Gojek Ketimbang Grab

Generasi milenial menjadi segmen konsumen terbesar di Indonesia, menurut data demografis Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip lembaga riset Alvara.

Pada 2020, mereka yang lahir antara 1981 hingga 1997 akan mengisi 34 persen dari populasi Tanah Air dan akan menjadi mayoritas hingga 2035.

Lembaga riset itu mengadakan riset terhadap lebih dari 1.204 responden di kota-kota besar Indonesia untuk menjelaskan preferensi generasi itu terhadap produk para penyedia layanan digital.

Parameternya meliputi kesadaran merek, loyalitas, serta tingkat kepuasan. "Pasar milenial jadi pasar terbesar dan potensial di Indonesia, baik dari sisi jumlah maupun perilaku yang berbeda dengan segmen pasar lainnya," ujar CEO Alvara, Hasanuddin Ali, di Hotel Four Points, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Tiga aplikasi seluler paling populer diduduki oleh transportasi daring (96,4 persen), pengiriman makanan daring (87,8 persen), dan aplikasi belanja (76,9 persen). Sementara itu, penggunaan aplikasi pembayaran digital dan pemesanan hotel jauh lebih rendah, masing-masing 30 persen dan 11,7 persen.

Hasan menyampaikan bahwa mayoritas di setiap kategori, merek Indonesia mendominasi, kecuali aplikasi belanja daring.

Ia menegaskan Gojek menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan oleh milenial. Mulai dari berbagi tumpangan, pengiriman makanan, hingga pembayaran digital.

Pada layanan transportasi daring, Gojek dipilih oleh 70,4 persen responden, sedangkan kompetitornya, Grab, dipilih 45,7 persen responden. Dalam catatan, responden juga diizinkan untuk memilih lebih dari satu aplikasi dalam jawaban mereka.

"Ada satu keunggulan dari Gojek sebagai pionir, ekosistemnya terintegrasi, antara transportasi digital, pengiriman makanan, dan pembayaran digital," jelas Hasan.

Survei itu juga menggunakan skor promotor bersih (NPS), indeks berkisar -100 hingga 100 yang mengukur keinginan pelanggan untuk merekomendasikan layanan perusahaan kepada orang lain.

Di antara semua responden, pengguna merekomendasikan Gojek dengan NPS 18,9, melampaui NPS Grab sebesar 10,1. "Top of mind merek transportasi daring menurut 68,4 persen itu Gojek, sedangkan 31,6 persen memilih Grab," tuturnya.

Gojek juga memimpin segmen pengiriman makanan karena 71,7 persen responden memilih Go-Food, sedangkan hanya ada 39,9 persen responden menggunakan GrabFood. Pun begitu, dengan pembayaran digital, kesadaran merek mencapai 100 persen di antara responden.

Angka itu jauh melampaui platform lain, seperti OVO, partner dari Grab dengan tingkat kesadaran merek 96,2 persen.

Dana yang didukung Alibaba memiliki kesadaran 50,3 persen, PayTren berada di 47 persen, dan platform milik BUMN, LinkAja, cuma 35 persen. Di segmen penjualan tiket digital, Traveloka, masih jadi yang paling populer di kalangan responden.

Buktinya, 79 persen responden mengetahui merek itu, sedangkan pesaingnya, Tiket.com, hanya diakui oleh 8,9 persen responden.

Selain keduanya, 5,6 persen responden mengetahui platform Blibli sebagai situs untuk membeli tiket, dan 3,2 persen mengenal aplikasi KAI Access milik negara sebagai alat pemesanan tiket transportasi.

Adapun untuk sektor e-commerce, merek regional Lazada dan Shopee memiliki lebih banyak kesadaran merek daripada opsi lokal.

Lazada adalah aplikasi belanja yang paling banyak direferensikan generasi milenial, diikuti oleh Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak.

Menanggapi hal itu, Head of Digital Economy Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Bima Laga, menyampaikan bila survei tersebut hanya menggambarkan suara dari sebagian milenial.

Menurutnya, tiap pemain e-commerce di Indonesia telah memiliki pasar masing-masing. Misalnya, kesadaran merek tidak selalu sesuai dengan penggunaan aplikasi sebenarnya.

Melansir Kr-Asia, dalam studi dari iPrice yang memasukkan data Pengguna Aktif Bulanan (MAU), Tokopedia memiliki MAU tertinggi di Indonesia selama kuartal I 2019, sedangkan Lazada ada di posisi keempat setelah Bukalapak dan Shopee.

Survei Alvara dilakukan dari 3-30 April 2019. Survei ini melibatkan 1.204 responden di Jabodetabek, Bali, Padang, Yogyakarta, dan Manado dan menggunakan metode cluster random sampling.

Lihat artikel asli www.wartaekonomi.co.id