Tekno

Kebakaran Lahan dan Hutan di Musim Kemarau, Pendaki Harus Siaga

Kebakaran Lahan dan Hutan di Musim Kemarau, Pendaki Harus Siaga

Di Pekanbaru, api membakar 15 hektar lahan gambut di pinggiran ibukota provinsi Riau. Api dilaporkan telah menyala sejak Jumat (18/07).

"Api mulai menyala pada hari Jumat. Saat ini, tim kami bersama personel TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sedang berusaha memadamkan api," ujar Edwin Putra, Kepala Brigade Kontrol Kebakaran Hutan (Manggala Agni) Pekanbaru, pada Minggu (21/07).

Butuh waktu lama untuk memadamkan api karena struktur lahan yang sebagian besar terdiri dari semak dan lahan gambut, kata Edwin.

Dalam beberapa minggu terakhir, suhu di Pekanbaru dilaporkan memang lebih panas dari rata-rata dengan curah hujan minimum. Akibatnya, api bisa dengan mudah membakar lahan gambut.

Guna mencegah penyebaran api, satuan tugas pengendalian kebakaran lahan gabungan telah mencoba memadamkan api dengan melokalisasinya.

BPBD Provinsi Riau mengatakan puluhan titik api juga terlihat di provinsi ini selama dua minggu terakhir, seperti di daerah Rupat, Bengkalis, Rokan Hilir, Meranti, Siak dan Pelalawan.

Siaga kebakaran bagi pendaki

Sementara di Jawa, kebakaran hebat juga terjadi di hutan yang populer diantara para pendaki, yaitu di kaki bukit Gunung Panderman, Kota Batu, Jawa Timur. Kebakaran terjadi pada Minggu (21/07) waktu setempat. Meski terbilang besar, kebakaran ini tidak memakan korban jiwa.

Kepala Unit Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Kota Batu, Achmad Choirur Rochim, mengatakan pada Senin (22/07) bahwa laporan terbaru dari otoritas Pos Pengamatan Gunung Panderman menyatakan tidak ada korban jiwa.

"Menurut laporan terbaru yang dirilis oleh otoritas Pos Pengamatan Gunung Panderman pada pukul 10 malam waktu setempat, tidak ada pendaki yang tetap berada di jalur pendakian gunung ketika api melahap hutan," ujarnya.

Rochim mengatakan api mulai membakar kawasan hutan di lereng Gunung Panderman, yang terletak 2.045 meter di atas permukaan laut, sekitar pukul 07:45 malam waktu setempat.

Puncak musim kemarau

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laporannya memperkirakan musim kemarau masih akan melanda sebagian besar wilayah di Indonesia hingga September.

Pada masa ini, kebakaran hutan dan lahan pun rawan terjadi. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pertengahan Juli 2019, kebakaran hutan telah terjadi di total area seluas 30.447 hektar di wilayah seperti Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Papua.

Propinsi dengan kebakaran hutan yang terluas yaitu Riau pada area seluas lebih dari 27.600 hektar dan Kalimantan Barat seluas 2.274 hektar.

"BNPB dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan operasi di udara untuk menginduksi hujan buatan," ujar juru bicara BNPB Agus Wibowo.

Usaha bantuan Singapura

Sebagai salah satu negara yang sering terdampak kebakaran hutan dan lahan yang melanda Indonesia, sebuah organisasi di Singapura pun turut memberi bantuan untuk meminimalisasi kebakaran.

Organisasi nonpemerintah asal Singapura bernama People's Movement to Stop Haze (PM Haze) meluncurkan sebuah proyek untuk merestorasi lahan gambut yang terbakar parah pada kebakaran hutan tahun 2014 silam.

Salah satu hal yang kami sadari adalah manajemen lahan gambut yang baik sangat penting untuk mengelola kabut asap di wilayah ini," ujar Benjamin Tay, direktur eksekutif PM Haze.

"Banyak kabut datang dari wilayah di Indonesia ke Singapura. Jadi dengan mencegah kebakaran dan kabut di wilayah asal, kami mencegah kabut datang ke Singapura," katanya.

Tanah gambut sangat mudah terbakar saat kering, dan membuat api menyebar dan sulit terkendali. Menyadari hal ini organisasi Tay memperbaiki kanal di daerah sekitar Sungai Tohor di Sumatera dan memastikan lahan gambut lokal bisa tetap basah.

PM Haze juga mendidik penduduk desa tentang konservasi lahan gambut, menyiapkan pembibitan untuk penanaman pohon, dan menyelenggarakan lokakarya guna mencegah kebakaran.

ae/vlz (Antara, Reuters)

Lihat artikel asli https://www.dw.com/id/beranda/s-11546