Tekno

Sepak Terjang KRI Dr Soeharso, Kapal Penjemput 74 WNI dari Jepang

Sepak Terjang KRI Dr Soeharso, Kapal Penjemput 74 WNI dari Jepang

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Dr Soeharso akan menjemput 74 warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada di kapal pesiar Diamond Princess, Yokohama, Jepang.

KRI Dr Soeharso dikenal sebagai kapal jenis bantu rumah sakit (BRS) terbesar yang dimiliki TNI AL. Berdasarkan data yang diolah VIVA, Jumat, 21 Februari 2020, sebelum berubah menjadi BRS, kapal itu digunakan untuk membantu tugas bantu angkut personel (BAP) bernama KRI Tanjung Dalpele.

Kapal tersebut diproduksi oleh Daesun Shipbuildings & Engineering Co. Ltd, Korea Selatan dan tiba di Indonesia pada September 2003. Kapal yang dibeli era pemerintahan Megawati Soekarnoputri itu harganya mencapai US$35 juta.

KRI Tanjung Dalpele.

KRI Tanjung Dalpele.

KRI Dr Soeharso memiliki bobot 11.394 ton kosong dan 16 ribu ton berisi penuh. Kapal sepanjang 122 meter, lebar 22 meter, dan draft 4,9 meter ini mempunyai geladak yang panjang dan luas sehingga mampu mengoperasikan dua unit helikopter Super puma sekaligus.

Kapal ini juga dilengkapi sebuah hanggar untuk menampung helikopter satu lagi dan juga melakukan perawatan terhadap helikopter.

Sebagai kapal rumah sakit, telah disediakan 1 ruang UGD,1 ruang ICU,1 ruang post operasi (RR), 3 ruang bedah(2 steril, 1 non steril), 6 ruang poliklinik, 14 ruang Penunjang Klinik dan 2 ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

Tak hanya itu. KRI Dr Soeharso juga memiliki 75 anak buah kapal (ABK), 65 staf medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI DR Soeharso juga dapat menampung 400 pasukan dan 3.000 penumpang.

Kapal pesiar milik Diamond Princess yang dikarantina di Jepang.

Kapal pesiar Diamond Princess.

Dalam fungsinya sebagai kapal angkut, kapal ini mampu mengangkut 14 truk/tank dengan bobot per truk/tank 8 ton, 3 helikopter tipe Super Puma, 2 Landing Craft Unit (LCU) tipe 23 M dan 1 hovercraft.

Persenjataan, kapal ini dilengkapi senjata 2 pucuk meriam Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20 mm dengan tenaga penggeraknya adalah mesin diesel.

Kapal ini kemudian berganti peran dari BAP ke BRS pada 1 Agustus 2007. Namanya pun berubah, dari KRI Tanjung Dalpele menjadi KRI Dr Soeharso.

Pengambilan nama KRI terinspirasi dari sosok dr Soeharso, seorang dokter ortopedi (ahli bedah tulang), sedangkan nama Dalpele dipilih dan diambil dari sebuah tanjung di gugusan kepulauan di Papua.