Internasional

Dapatkah Vaksin yang Dibuat Tahun 1921 Hentikan Pandemi Corona?

Dapatkah Vaksin yang Dibuat Tahun 1921 Hentikan Pandemi Corona?

BCG (Bacillus Calmette-GuÂŽrin) vaccine
Getty Images
Vaksin BCG (Bacillus Calmette-GuÂŽrin) dikembangkan untuk mengatasi tuberculosis. Vaksin ini dipotret di Pasteur Institute, Paris , tahun 1931.

Sekelompok ilmuwan di Inggris menguji vaksin BCG yang dikembangkan tahun 1921 dalam upaya menghentikan pandemi Covid-19.

Vaksin BCG didesain untuk menghentikan tuberculosis. Namun belakangan muncul bukti ilmiah bahwa vaksin itu dapat mencegah infeksi penyakit lainnya.

Sekitar seribu orang dilibatkan dalam uji klinis yang berlangsung di University of Exeter, Inggris tersebut.

Walaupun jutaan orang di Inggris telah disuntik BCG saat mereka masih anak-anak, sekarang mereka diperkirakan perlu menjalani vaksinasi ulang lagi untuk mendapatkan manfaatnya.

  • Siapa yang pertama kali akan mendapatkan vaksin virus corona dan seberapa cepat akan tersedia?
  • Apa yang bisa dipelajari dari vaksinasi massal flu babi yang `gagal` di tahun 1976?
  • Siapa saja yang mengembangkan `vaksin merah-putih` dan bagaimana cara kerjanya?

Vaksin BCG dirancang untuk melatih sistem kekebalan sehingga memberikan berkelanjutan terhadap suatu infeksi tertentu.

Namun proses itu juga menyebabkan perubahan meluas pada sistem kekebalan tubuh.

Vaksin BCG meningkatkan respons terhadap infeksi lain. Oleh karena itu, para ilmuwan berharap itu bahkan dapat menyokong tubuh kita untuk melawan virus corona.

  • Uji klinis sebelumnya menunjukkan, BCG mengurangi kematian bayi yang baru lahir hingga 38% di Guinea-Bissau. Dampak vaksin ini sebagian besar mengurangi kasus pneumonia dan sepsis.

  • Kajian di Afrika Selatan menghubungkan vaksin ini dengan pengurangan 73% infeksi di hidung, tenggorokan dan paru-paru.

Sementara itu, uji klinis di Belanda menunjukkan bahwa BCG mengurangi jumlah virus demam kuning di dalam tubuh.

"Temuan ini bisa jadi sangat penting dalam skala global," kata John Campbell, profesor di Fakultas Kedokteran di University of Exeter.

"Meskipun kami tidak berpikir vaksin perlindungan hhusus untuk melawan Covid-19, BCG berpeluang mengisi kekosongan selama beberapa tahun sebelum vaksin Covid dan perawatan lainnya dikembangkan," kata Campbell.

Uji klinis di Inggris itu adalah bagian dari studi yang digelar di Brace internasional. Kajian serupa juga berlangsung di Australia, Belanda, Spanyol, dan Brasil. Penelitian ini melibatkan sekitar 10.000 orang.

Penelitian ini akan fokus pada petugas medis karena mereka lebih mungkin terpapar virus corona. Para peneliti berharap dapat mengetahui secara lebih cepat apakah vaksin tahun 1921 itu benar-benar efektif.

Baby being given a BCG jab
Getty Images

Sam Hilton, seorang dokter umum dari Exeter, ikut serta dalam uji klinis ini. Alasannya, kata dia, sebagai seorang dokter dia berisiko tinggi tertular Covid-19.

"Ada teori yang cukup bagus bahwa BCG mungkin membuat Anda cenderung tidak sakit ketika Anda tertular Covid-19," ucapnya.

"Jadi saya melihat uji klinis ini sebagai peluang untuk sedikit terlindungi, yang berarti saya punya peluang lebih besar untuk bekerja musim dingin ini," kata Hilton.

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), adalah salah satu penulis artikel di Jurnal Lancet. Dia menyebut vaksin BCG berpotensi menjembatani kesenjangan sebelum vaksin suatu penyakit dikembangkan.

"Ini akan menjadi alat penting dalam mengatasi Covid-19 dan pandemi di masa depan," tulisnya dalam artikel itu.

Namun, vaksin BCG tidak akan menjadi solusi jangka panjang.

Ketahanan tubuh terhadap Covid diperkirakan akan berkurang. Artinya, orang yang mendapatkan suntikan BCG pada masa kecil tidak lagi memiliki perlindungan.

BCG tak lagi digunakan di Inggris sejak 2005 karena tingkat tuberkulosis di negara itu sangat rendah.

Selain itu, vaksin ini tidak melatih sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi dan sel darah putih yang da pat mengenali dan melawan virus corona.

Tujuan akhir uji klinis

Tujuan besar secara global tetaplah mengembangkan vaksin yang secara khusus melawan virus corona. Sepuluh vaksin kini sedang dalam tahap akhir penelitian klinis, termasuk yang dikembangkan di University of Oxford.

Profesor Andrew Pollard, dari Oxford Vaccine Group, berkata kepada BBC, "Sebagian besar vaksin membuat respons kekebalan tubuh yang sangat spesifik terhadap kuman yang Anda coba cegah.

"Tapi untuk memicu kekebalan yang baik, ada juga `peningkatan` yang tidak terlalu spesifik dan yang mengubah cara sistem kekebalan dapat merespons di masa depan.

"Masalah yang kami hadapi sekarang adalah saya tidak dapat memberi tahu Anda apa yang dapat Anda lakukan dengan vaksin lainnya untuk meningkatkan kekebalan Anda terhadap virus corona karena kami tidak memiliki bukti sama sekali," kata Pollard.

Lihat artikel asli
fotter-bbc