Nasional

Ketum Relawan Pro Jokowi: Partisipasi Pilkada 2020 Diprediksi Rendah

Ketum Relawan Pro Jokowi: Partisipasi Pilkada 2020 Diprediksi Rendah

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi, menyoroti terkait pelaksanaan pilkada di masa pandemi COVID-19 tahun 2020 ini. Budi memprediksi pilkada serentak 2020 ini akan mengalami penurunan partisipasi publik.

Budi mengatakan, dari beberapa proses pilkada sebelumnya, data menunjukkan partisipasi publik yang masih rendah dalam memilih kepala daerahnya. Rendahnya partisipasi publik ini, kata Budi, bukanlah hal yang dapat disepelekan.

Rawan Corona, JK Saran Pilkada Serentak 2020 Ditunda Dulu

"Adalah soal yang sangat krusial adalah partisipasi pemilih. Ini kan isu yang sangat penting. Dari DPS daftar pemilih sementara entar jadi DPT daftar pemilih tetap, nanti kita akan lihat berapa persen partisipasi pemilih. Dari catatan kita di beberapa daerah kabupaten kota, tingkat partisipasi pemilih di dalam pilkada ini tidak begitu signifikan. Kalau boleh dibilang agak rendah," kata Budi dalam video yang diterima VIVA, Minggu 20 September 2020.

Budi memberikan contoh, di Pilkada Kota Depok beberapa tahun lalu, partisipasi masyarakat hanya sekitar 54 persen. Padahal saat itu kondisi masih dalam keadaan normal dan belum masuk masa pandemi. Tetapi, partisipasi publik hanya di kisaran 50 sampai 60 persen.

"Nah di tengah pandemi ini apakah partisipasi akan lebih besar atau menurun. Menurut hemat kami dengan kondisi seperti dengan suara-suara yang berkembang di masyarakat bisa jadi partisipasi pemilih sangat rendah," kata Budi.

Pasien yang positif COVID-19 yang semakin hari terus bertambah jumlahnya, membuat masyarakat akan berpikir dua kali untuk mengikuti ataupun berpartisipasi dalam pilkada serentak 2020. Untuk itu, pria yang juga merupakan ketua umum Relawan Pro Jokowi itu memprediksi partisipasi publik akan sangat rendah di Pilkada 2020 ini.

"Karena pandemi COVID-19 ini dengan berbagai alasan, warga banyak yang tidak mau memilih dan tidak mau datang ke TPS. Konsekuensi dari menurunnya partisipasi pemilih ini adalah legitimasi politik," ujarnya. (art)