Politik

Indonesia Butuh Kolaborasi Menuju Gelombang Baru Indonesia

Indonesia Butuh Kolaborasi Menuju Gelombang Baru Indonesia

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) Anis Matta menilai, bangsa harus berkolaborasi jika ingin maju mengambil peran dalam percaturan global. Tidak terjebak pada paham kiri atau kanan, yang membelah.

Anis menjelaskan, sejarah Indonesia pernah berada dalam beberapa gelombang. Yakni pertama sebelum kemerdekaan, dengan munculnya Syarikat Dagang Islam oleh HOS Tjokroaminoto, lahirnya Muhammadiyah, NU hingga Sumpah Pemuda 1928. Kata dia, tujuannya adalah satu yakni merdeka.

Gelombang kedua, kata dia, adalah setelah merdeka muncul pemahaman bersama untuk melakukan pembangunan. Walau diakuinya, demokrasi kurang diperhatikan saat itu. Lahirnya reformasi, menurut dia adalah untuk mencari titik keseimbangan antara demokrasi dan pembangunan.

"Maka yang harus kita satukan seluruh komponen bangsa yang terbelah belah ke kanan ke kiri dan tengah," kata Anis, Rabu 5 Mei 2021.

 Habib Rizieq Berhak Ajukan Penangguhan Penahanan Sebelum Putusan

Lebih lanjut dia mengatakan, jika berkaca pada gelombang sejarah Indonesia dari gelombang pertama (sebelum 17 Agustus 1945), gelombang kedua (masa pembangunan), maka yang harus dilakukan saat ini adalah gelombang ketiga. Saat gelombang pertama dan kedua, jelas dia, memiliki satu pemahaman bersama walau diantara para komponen bangsa memiliki perbedaan pandangan.

Maka menurutnya, sudah seharusnya bangsa keluar dari konflik apakah kelompok yang dicap kiri atau kanan.

"Kita ingin keluar dari konflik ini," katanya. Maka menurut dia, saat ini adalah momentumnya. Dia juga mengakui, ada juga yang tetap ingin memecah dengan pembelahan seperti antara Islam dan nasionalisme.